Langkah Strategis Dorong Ketahanan Energi Nasional Diumumkan
Oleh pemerintah, kebijakan pencampuran bioetanol E5 dan E10 ditekankan sebagai langkah strategis untuk mendorong ketahanan dan kedaulatan energi Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam keterangannya di hadapan awak media di Washington DC, Amerika Serikat, pada Jumat 20 Februari 2026, yang kemudian dirangkum oleh Kabaraktual.online pada Sabtu, 21 Februari 2026.
“Salah satu strategi untuk kita mendorong ketahanan energi dan kedaulatan energi kita adalah kita akan menerapkan bagian daripada bensin kita akan campur dengan etanol mandatori,” pungkas Bahlil dalam kesempatan tersebut.
Perluasan Usaha Sektor Energi Menjadi Tujuan Utama Kebijakan
Selanjutnya, oleh Bahlil ditegaskan bahwa penerapan kebijakan tersebut merupakan langkah pemerintah untuk memperluas aktivitas usaha pada sektor energi domestik.
“Tujuannya sebenarnya adalah bagaimana menciptakan peluang usaha baru yang ada di Indonesia,” ucapnya dengan jelas.
Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan bioetanol tidak hanya berfokus pada aspek ketahanan energi, tetapi juga memiliki dampak positif bagi pengembangan ekonomi nasional melalui pembukaan lapangan usaha baru di sektor energi.
Impor Bioetanol dari AS Jadi Solusi Sementara Sebelum Kemandirian Produksi
Adapun terkait butir perjanjian perdagangan timbal balik yang ditandatangani oleh Indonesia dan Amerika Serikat mengenai impor bioetanol, oleh Menteri ESDM dijelaskan hal tersebut sebagai langkah dalam upaya memenuhi kebutuhan etanol nasional sebelum mencapai kemandirian produksi.
“Namun sampai dengan produksi kita bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, maka ruang untuk kita melakukan impor boleh saja, termasuk di impor dari Amerika, sampai dengan kebutuhan produksi kita dalam negeri terpenuhi,” ucapnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa impor bioetanol dari Amerika Serikat bukanlah tujuan jangka panjang, melainkan solusi sementara untuk menjamin ketersediaan pasokan etanol di dalam negeri.
Tarif Masuk 0 Persen Bikin Harga Bahan Baku Lebih Kompetitif
Dalam implementasinya, pengalihan sumber impor etanol dilakukan dengan memanfaatkan tarif masuk 0 persen. Kebijakan ini dinilai memberikan keuntungan langsung bagi Indonesia karena harga bahan baku menjadi lebih kompetitif.
“Kalau kita masuknya dengan tarif 0 persen ke negara kita, berarti kan harus lebih murah dong. Ini kan menguntungkan kita sebenarnya. Kita melakukan impor dari sini, tarifnya masuk 0 persen, harganya lebih murah sehingga industri kita lebih kompetitif dalam memakai bahan baku daripada etanol,” jelasnya.
Dengan adanya tarif masuk 0 persen, biaya yang dikeluarkan untuk mengimpor bioetanol menjadi lebih rendah, yang pada akhirnya akan berdampak positif bagi kelancaran operasional industri yang menggunakan etanol sebagai bahan baku.
Etanol Jadi Bahan Baku Penting Berbagai Sektor Industri Nasional
Menurut Bahlil, etanol tidak hanya digunakan untuk pencampuran bahan bakar, tetapi juga menjadi bahan baku penting bagi berbagai sektor industri. Dengan biaya impor yang lebih efisien, oleh pemerintah diharapkan struktur biaya produksi industri nasional dapat ditekan sehingga meningkatkan daya saing di pasar global.
Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan bioetanol yang diterapkan oleh pemerintah memiliki dampak yang luas dan positif bagi berbagai aspek kehidupan nasional, mulai dari ketahanan energi hingga pengembangan industri dan ekonomi negara.
Editor : Redaksi







