Inhu/Riau, KabarAktual.online – Sebuah peristiwa yang sangat memprihatinkan dan menggegerkan masyarakat telah terjadi di Dusun Talang Tanjung Desa Siambul, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, di mana seorang warga yang bernama Girsang diaduk dan mendapatkan perlakuan kekerasan yang dilakukan oleh seorang oknum anggota Babinsa pada hari Kamis, tanggal 16 April 2026, setelah orang tersebut dituduh secara sepihak telah mengambil buah kelapa sawit milik pihak perusahaan, meskipun tuduhan tersebut tidak disertai dengan bukti yang kuat dan justru menimbulkan perselisihan yang berujung pada tindakan kekerasan yang melanggar hak-hak asasi manusia.
Awal Mula : Penemuan Buah yang Menimbulkan Tuduhan
Kejadian ini berawal pada hari Kamis sekitar pukul 17.30 WIB, ketika seorang penjaga keamanan yang biasa disingkat dengan sebutan PK menjumpai Girsang dan menanyakan tentang adanya penemuan buah kelapa sawit yang diduga milik PT Naga yang ditemukan berada di dalam ladang miliknya, sehingga hal ini membuat Girsang merasa bingung dan terkejut karena dirinya sama sekali tidak mengetahui adanya buah milik orang lain yang berada di areal kebun yang menjadi hak miliknya tersebut.
Oleh karena itu, Girsang pun langsung mengajak penjaga keamanan tersebut untuk pergi menuju lokasi kebunnya dengan alasan bahwa dirinya juga merasa khawatir karena buah kelapa sawit miliknya sendiri juga diketahui mengalami kehilangan, sehingga ia berharap dengan kehadiran penjaga keamanan tersebut, dapat diketahui dengan jelas siapa sebenarnya yang telah mengambil buah yang menjadi milik perusahaan tersebut.
Namun demikian, sesampainya di lokasi kebun, sikap penjaga keamanan tersebut berubah secara drastis, di mana ia langsung menyatakan kepada Girsang bahwa karena buah tersebut ditemukan berada di dalam areal kebun miliknya, maka Girsang lah yang harus bertanggung jawab atas keberadaan buah tersebut, bahkan pernyataan tersebut diucapkan secara berulang-ulang dengan nada yang tidak dapat diajak berunding sama sekali. Menyikapi sikap yang ditunjukkan oleh penjaga keamanan tersebut, Girsang pun berusaha untuk menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tidak bersalah dan justru merasa menjadi korban dalam peristiwa ini, bahkan ia menyarankan agar mereka berdua melakukan pengawasan bersama-sama untuk mengetahui siapa sebenarnya yang telah mengambil buah milik perusahaan tersebut, namun usulan yang disampaikan oleh Girsang tersebut tidak diindahkan sama sekali oleh penjaga keamanan yang tetap bersikeras bahwa Girsang lah yang harus disalahkan.
Melihat sikap yang tidak mau mendengar penjelasan tersebut, Girsang pun dengan tegas menyatakan bahwa jika dirinya tetap dituduh melakukan perbuatan yang tidak pernah dilakukannya, maka pihak penjaga keamanan tersebut tidak diizinkan untuk masuk ke dalam areal kebun miliknya, mengingat hari sudah mulai larut malam dan kondisi lingkungan sekitar sudah tidak memungkinkan untuk melakukan pemeriksaan secara mendetail.
Lebih lanjut, Girsang juga menyarankan agar pemeriksaan tersebut dilakukan pada keesokan harinya saat pagi hari agar hasilnya dapat dilihat dengan jelas dan tidak terjadi kesalahpahaman, namun usulan yang disampaikan tersebut justru membuat penjaga keamanan tersebut marah dan langsung memanggil orang-orang yang biasa disebut dengan tukang langsir untuk masuk ke dalam kebun milik Girsang tanpa meminta izin terlebih dahulu, bahkan sejumlah buah yang ditemukan di lokasi tersebut langsung diambil oleh mereka tanpa persetujuan dari pemilik lahan.
Perselisihan Berlanjut Saat Akan Mengambil Sisa Buah
Tidak berhenti sampai di situ, sekitar pukul 19.30 WIB, Girsang melihat kedatangan sejumlah besar tukang langsir yang berasal dari pihak perusahaan yang bergerak menuju areal kebun miliknya, sehingga ia yakin bahwa kedatangan mereka tersebut bertujuan untuk mengambil sisa buah yang masih tersisa di lokasi tersebut. Menyadari hal tersebut, Girsang pun berusaha untuk menghentikan langkah mereka dan menyatakan bahwa pengambilan buah tersebut tidak dapat dilakukan karena tidak ada izin yang diberikan oleh dirinya selaku pemilik lahan, bahkan ia kembali menyarankan agar proses pengambilan tersebut ditunda hingga keesokan harinya agar semuanya dapat dilakukan dengan cara yang baik dan tidak menimbulkan keributan. Namun demikian, permintaan yang disampaikan oleh Girsang tersebut kembali tidak diindahkan, sehingga terjadilah perselisihan pendapat di antara keduanya karena Girsang belum sempat melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap kondisi lahan dan buah miliknya sendiri.
Beruntungnya, perselisihan yang terjadi tersebut akhirnya dapat diselesaikan sementara waktu, di mana pihak penjaga keamanan dan tukang langsir tersebut akhirnya membatalkan niat mereka untuk mengambil sisa buah yang ada di dalam kebun milik Girsang, sehingga Girsang merasa lega dan beranggapan bahwa masalah tersebut sudah selesai dan dapat diistirahatkan, mengingat kondisi cuaca yang saat itu sedang turun hujan gerimis dan hari sudah semakin larut malam. Akan tetapi, dugaan bahwa masalah tersebut sudah berakhir ternyata keliru, karena Girsang kembali mendapatkan kejadian yang tidak menyenangkan yang terjadi pada malam harinya.
Kediaman Dikunjungi dan Tindakan Kekerasan Dilakukan
Sekitar pukul 23.30 WIB di hari yang sama, kediaman Girsang didatangi oleh sekelompok orang yang di antaranya adalah penjaga keamanan yang terlibat dalam perselisihan sebelumnya beserta sejumlah orang yang diduga merupakan oknum anggota TNI, di mana salah satu di antaranya adalah seorang Babinsa yang juga bertugas menjaga kebun milik PT Naga tersebut. Pada saat itu, Girsang sedang berada di dalam rumahnya bersama dengan dua orang temannya dan keduanya sudah dalam keadaan istirahat, namun kedatangan rombongan tersebut justru memaksa Girsang untuk ikut pergi menuju lokasi kebun di tengah malam yang gelap dan hujan tersebut. Melihat situasi yang tidak menguntungkan tersebut, kedua orang teman Girsang pun melakukan perekaman video terhadap kejadian yang sedang berlangsung sebagai bentuk dokumentasi agar dapat digunakan sebagai bukti di kemudian hari, mengingat Girsang dipojokkan dan dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya.
Dengan tegas, Girsang menolak ajakan dan paksaan yang diberikan oleh rombongan tersebut dengan alasan bahwa hari sudah larut malam, cuaca sedang tidak bersahabat, dan ia sudah menyatakan sebelumnya bahwa pemeriksaan akan dilakukan pada keesokan harinya, sehingga ia merasa tidak perlu untuk pergi keluar rumah pada waktu istirahat tersebut.
Namun demikian, penolakan yang disampaikan oleh Girsang tersebut justru membuat oknum Babinsa yang ada di lokasi tersebut marah besar dan langsung melakukan tindakan kekerasan dengan menampar pipi sebelah kiri Girsang secara kasar, bahkan oknum tersebut sempat memerintahkan agar Girsang dilakukan pemeriksaan visum untuk membuktikan luka yang dideritanya akibat perbuatan tersebut. Selain itu, oknum Babinsa tersebut juga memarahi teman Girsang yang sedang melakukan perekaman video terhadap kejadian tersebut karena merasa tidak senang dengan adanya dokumentasi yang dilakukan secara terbuka.
Mendengar suara keributan yang terjadi di dalam rumah Girsang, sejumlah tetangga yang tinggal di sekitar lokasi pun keluar dari rumah mereka masing-masing untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi dan berusaha untuk menenangkan situasi agar tidak semakin memanas dan menimbulkan dampak yang lebih buruk bagi semua pihak yang terlibat dalam kejadian tersebut.
Editor: Redaksi











