Aceh Singkil, Kabaraktual.online – Dugaan kasus keracunan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026, di Kabupaten Aceh Singkil telah disoroti oleh Aliansi Muda Penggerak Aceh Singkil (AMPAS). Hingga hari ini, sikap bungkam yang ditunjukkan oleh Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (KORWIL BGN) masih dinilai belum memberikan klarifikasi resmi kepada publik, sehingga menimbulkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat.
Sikap Diam KORWIL BGN Menimbulkan Tanda Tanya Besar
Perihal peristiwa tersebut, Sekretaris Jenderal AMPAS, Budi Harjo, menegaskan bahwa sikap diam dari pihak KORWIL BGN justru menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Dugaan keracunan yang menimpa sejumlah peserta didik bukanlah persoalan yang sepele, melainkan hal yang sangat menyangkut keselamatan dan kesehatan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
“Peristiwa yang terjadi pada 11 Februari 2026 itu harus dijelaskan secara terbuka kepada seluruh pihak. Jangan sampai ada kesan pembiaran atau upaya yang dilakukan untuk menutup-nutupi fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan,” tegas Budi Harjo dengan tegas.
Program MBG Seharusnya Menjadi Unggulan Peningkatan Gizi
Sebagaimana diketahui, program MBG yang berada di bawah koordinasi Badan Gizi Nasional seharusnya menjadi program unggulan yang mampu meningkatkan kualitas gizi peserta didik di berbagai wilayah, termasuk di Kabupaten Aceh Singkil.
Namun, apabila dalam pelaksanaannya justru menimbulkan persoalan kesehatan bagi para peserta didik yang menjadi target program, maka evaluasi total perlu segera dilakukan oleh pihak yang berwenang.
Evaluasi tersebut harus mencakup mulai dari pengelolaan dapur yang digunakan untuk memproduksi makanan, proses distribusi makanan hingga ke tangan peserta didik, hingga standar kelayakan konsumsi yang diterapkan pada setiap tahapan pelaksanaan program.
AMPAS Mendesak Klarifikasi Resmi dan Langkah Konkret
Berdasarkan hal tersebut, AMPAS mendesak KORWIL BGN Aceh Singkil untuk segera memberikan klarifikasi resmi terkait beberapa poin penting yang menjadi perhatian masyarakat.
Poin-poin yang dimaksud antara lain adalah jumlah pasti peserta didik yang terdampak pada 11 Februari 2026, hasil pemeriksaan medis dan uji laboratorium yang telah dilakukan terhadap sampel makanan maupun kondisi kesehatan peserta didik, standar operasional prosedur (SOP) dapur MBG yang diterapkan saat kejadian berlangsung, serta langkah pencegahan yang akan diambil agar peristiwa serupa tidak terulang di masa mendatang.
Selain itu, AMPAS juga meminta agar aparat penegak hukum turun tangan dan melakukan penyelidikan apabila ditemukan unsur kelalaian atau pelanggaran dalam pelaksanaan program MBG tersebut.
“Kalau memang tidak ada masalah dalam pelaksanaan program ini, sampaikan secara terbuka kepada publik. Tapi jika ada kelalaian yang terjadi, harus ada pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Keselamatan anak-anak jauh lebih penting daripada sekadar jabatan atau kepentingan lainnya,” tambahnya lagi.
AMPAS Akan Terus Mengawal Hingga Ada Kejelasan
AMPAS menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal kasus dugaan keracunan MBG ini sampai ada kejelasan dan pertanggungjawaban yang nyata dari pihak yang bertanggung jawab.
Masyarakat Aceh Singkil berhak mendapatkan informasi yang jujur dan transparan atas setiap program yang dijalankan atas nama rakyat, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap program-program pemerintah dapat terjaga dengan baik. (Munawan Sahputra)
Editor: Redaksi












