Oleh: Redaksi Kabaraktual.online
Tanggal: 16 Maret 2026
Pernyataan Tegas Menteri Luar Negeri Iran Tentang Selat Hormuz
Sebagai respons terhadap serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayahnya, pernyataan tegas telah disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Dinyatakan olehnya bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi seluruh dunia, namun secara khusus ditutup bagi musuh-musuh Iran, pihak-pihak yang melakukan agresi pengecut terhadap negara tersebut, serta sekutu-sekutu mereka.
Selain itu, dijelaskan juga oleh pihak berwenang bahwa kapal-kapal dari negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik militer ini masih dapat melewati selat tersebut dengan syarat harus melakukan koordinasi dan mendapatkan izin terlebih dahulu dari angkatan bersenjata Iran.
Sebagai jalur perdagangan minyak dunia yang sangat penting, di mana seperlima dari pengiriman minyak global melaluinya, keputusan ini tentu akan memberikan dampak yang signifikan terhadap pasar energi internasional, yang sebelumnya sudah mengalami kenaikan harga minyak hingga di atas 100 dolar AS per barel dari harga sebelum perang yang sekitar 65 dolar AS per barel.
Serangan Balik dan Dampak yang Terjadi di Berbagai Wilayah
Setelah serangan yang dilakukan oleh pasukan AS dan Israel yang terus membombardir kota-kota di Iran seperti Teheran, Hamadan, dan Isfahan, serangan balasan pun diluncurkan oleh pihak Iran. Kerusakan dilaporkan terjadi di beberapa kota di Israel akibat serangan balasan tersebut.
Selain itu, target juga ditembakkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap Komando Selatan militer Israel dan fasilitas perusahaan senjata Israel, Rafael.
Tidak hanya itu, Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar dan posisi kelompok oposisi bersenjata di Erbil, wilayah Kurdi semi-otonom Irak juga menjadi target serangan oleh unit drone IRGC.
Di sisi lain, pertempuran juga terjadi antara Hizbullah dan pasukan Israel yang menyerang di Lebanon selatan, di mana upaya masuk ke wilayah Lebanon dilakukan oleh musuh di bawah tembakan artileri dan tembakan senjata, serta kemajuan kendaraan militer musuh juga diamati di dekat kota-kota perbatasan selatan.
Sementara itu, di Qatar, ancaman keamanan berhasil dihilangkan oleh otoritas setempat setelah gelombang kedua serangan rudal yang menargetkan negara tersebut berhasil dicegat oleh pasukan pertahanan Qatar.
Respons Pejabat Iran dan Persiapan Israel Menghadapi Konflik yang Berlanjut
Pesan khusus juga disampaikan oleh Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani, kepada dunia Muslim. Dinyatakan olehnya bahwa Iran tetap teguh dalam perjuangannya melawan AS dan Israel, namun kekecewaan juga diungkapkannya atas kurangnya dukungan dari negara-negara mayoritas Muslim, bahkan ada yang menyatakan Iran sebagai musuh hanya karena Iran menargetkan pangkalan AS dan kepentingan AS serta Israel yang berada di wilayah mereka.
Selain itu, tuntutan juga diajukan oleh Menteri Luar Negeri Araghchi agar posisi negara-negara tetangga yang menjadi tuan rumah pasukan AS dan mengizinkan serangan terhadap Iran segera dijelaskan, mengingat serangan tersebut telah menyebabkan kematian ratusan warga sipil di Iran.
Di sisi lain, persiapan untuk perang yang berlangsung lebih lama sedang dilakukan oleh Israel, bukan untuk penurunan eskalasi konflik.
Hal ini ditandai dengan perintah yang diberikan oleh otoritas kepada dokter dan staf medis untuk tidak meninggalkan negara tersebut.
Selain itu, kerusakan juga dilaporkan terjadi di berbagai wilayah di Israel, seperti Ashkelon, area barat dan barat daya Yerusalem termasuk Bet Shemesh, Rishon LeZion, area Tel Aviv yang lebih luas, dan Galilea Atas.
Bahkan, cedera serius juga dialami oleh seorang pria Israel di kota selatan Kiryat Gat yang tertabrak kendaraan saat menuju tempat perlindungan setelah peluncuran rudal Iran, dan cedera ringan juga terjadi pada orang lain akibat pecahan peluru rudal di area Yerusalem.
Strategi Iran Menghadapi Perang dan Kartu yang Dimilikinya
Keyakinan juga dimiliki oleh Iran bahwa masih ada lebih banyak “kartu untuk dimainkan” dalam perang ini, jika tidak untuk menang, setidaknya untuk mengakhiri perang dengan syarat-syarat yang menguntungkan dirinya.
Hal ini diungkapkan oleh Hamidreza Azizi, seorang peneliti tamu di Institut Studi Keamanan dan Internasional Jerman.
Dijelaskan olehnya bahwa referensi terhadap dua selat, yaitu Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandeb, telah dilakukan oleh Iran, yang menunjukkan kemungkinan permintaan kepada Houthi untuk mengancam Selat Bab al-Mandeb.
Selain itu, kekhawatiran juga dirasakan oleh Iran tentang kemungkinan invasi darat terbatas oleh AS untuk mengambil alih Pulau Kharg yang sangat penting bagi ekspor minyak Iran.
Oleh karena itu, sinyal juga diberikan oleh Iran bahwa jika hal tersebut terjadi, maka seluruh fasilitas minyak di seluruh wilayah akan menjadi target serangan.











