Sanksi Minyak Iran Dicabut Sementara, Nasib Pendapatan Belum Jelas
KabarAktual.online – Sanksi terhadap kapal tanker minyak Iran yang terdampar akibat perang telah dicabut sementara oleh pemerintahan Trump.
Sebagaimana diketahui, sanksi pada sektor ekspor minyak Iran ini pertama kali diberlakukan pada tahun 2019, yang kemudian menjadi pukulan terberat bagi perekonomian negara tersebut, di samping sanksi lain yang terkait dengan materi dan teknologi energi nuklir yang diterapkan kembali setelah penarikan Amerika Serikat dari perjanjian nuklir Iran pada tahun 2018.
Meskipun kebijakan pencabutan sementara ini telah diumumkan oleh Departemen Keuangan AS, hingga berita ini dirangkum KabarAktual.online pada Sabtu 21 Maret 2026 saat ini belum dapat dipastikan apakah pendapatan yang dihasilkan dari penjualan minyak tersebut akan mengalir ke pihak Iran atau tidak.
Langkah ini diambil di tengah situasi geopolitik yang semakin memanas, di mana hubungan antara Amerika Serikat dan Iran telah berada dalam titik yang sangat tegang selama beberapa tahun terakhir.
Selat Hormuz Dibuka Terbatas, PBB Siap Bantu Normalisasi Jalur Laut
Setelah periode penutupan yang menyebabkan gangguan besar pada lalu lintas maritim, izin pelayaran terbatas telah diberikan oleh Iran bagi sejumlah kapal kargo untuk melintasi Selat Hormuz.
Fakta ini dilaporkan berdasarkan data pelayaran yang menunjukkan bahwa setidaknya enam kapal telah melakukan bongkar muat di Pelabuhan Khomeini dan melintasi selat tersebut pada pertengahan Maret.
Sebagai tanggapan terhadap situasi ini, kesiapan untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz secara penuh telah dinyatakan oleh Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, yang juga menegaskan bahwa upaya ini akan dilakukan dengan merujuk pada pengalaman sukses Inisiatif Gandum Laut Hitam sebelumnya.
Di sisi lain, kecaman terhadap penutupan Selat Hormuz juga telah disampaikan oleh Korea Selatan yang bergabung dengan sejumlah negara Eropa dan Jepang, mengingat pentingnya keamanan jalur pelayaran internasional dan dampak langsung yang dapat ditimbulkan oleh gangguan di selat tersebut terhadap pasokan energi dan perekonomian global secara keseluruhan.
Harga Minyak Melonjak Tinggi, Maskapai Siap Hadapi Lonjakan Biaya
Dampak langsung dari ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah telah dirasakan secara signifikan pada pasar energi global, di mana kenaikan harga minyak yang sangat tajam telah terjadi.
Perkiraan bahwa harga minyak akan tetap berada di atas level 100 dolar per barel hingga akhir tahun 2027 telah disampaikan oleh Scott Kirby, Kepala Eksekutif United Airlines.
Bahkan, persiapan untuk menghadapi lonjakan harga minyak yang dapat mencapai 175 dolar per barel juga telah dilakukan oleh pihak maskapai.
Sebagai konsekuensi dari kenaikan harga bahan bakar jet yang hampir dua kali lipat sejak akhir Februari lalu, peningkatan biaya bahan bakar tahunan sebesar 11 miliar dolar diperkirakan akan dialami oleh United Airlines jika harga tinggi ini bertahan.
Selain itu, rencana untuk mengurangi penerbangan yang kurang menguntungkan dan tetap menangguhkan layanan ke Tel Aviv dan Dubai juga telah ditetapkan oleh perusahaan sebagai langkah strategis dalam menghadapi tantangan ekonomi yang muncul akibat konflik tersebut.
Eskalasi Serangan Terjadi di Berbagai Lokasi, Wilayah Teheran Jadi Sasaran
Serangan udara terus dilancarkan ke wilayah Teheran dan daerah sekitarnya, termasuk Karaj, Shahrak-e Mahallati, Shahrak-e Pardis, dan Shahr-e-Ray, tepat saat perayaan Tahun Baru Persia atau Nowruz sedang berlangsung di Iran. Serangan ini telah menyebabkan kerusakan pada bangunan perumahan, meskipun jumlah korban jiwa dan tingkat kerusakan yang lebih rinci belum dapat dilaporkan secara resmi hingga saat ini.
Sebagai bentuk tanggapan, serangan balasan juga telah dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran, yang menargetkan lebih dari 55 lokasi yang terkait dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel di berbagai wilayah Timur Tengah.
Selain itu, peluncuran dua rudal balistik jarak menengah ke arah pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia juga telah dilakukan oleh pihak Iran, meskipun dilaporkan bahwa target tersebut tidak berhasil dicapai oleh rudal-rudal tersebut.
Di tempat lain, peringatan serangan udara juga telah dibunyikan di wilayah utara Israel akibat serangan rudal dan drone yang datang dari Iran dan Hizbullah, sementara perintah evakuasi paksa baru juga telah dikeluarkan oleh Israel di wilayah Lebanon, termasuk di Beirut selatan, seiring dengan dilancarkannya serangan baru di berbagai wilayah negara tersebut.
Inisiatif Perdamaian Dijalankan, PBB Tekankan Pentingnya Hukum Internasional
Kerja sama aktif dengan Dewan Perdamaian yang dibentuk oleh Presiden Trump telah diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa -Bangsa (PBB), Antonio Guterres, dalam sebuah wawancara.
Namun, penegasan bahwa pendekatan yang hanya dikendalikan oleh satu pihak saja tidak dianggap sebagai cara yang efektif untuk mengatasi masalah-masalah dramatis yang sedang terjadi saat ini juga disampaikan oleh Guterres. Menurut pandangannya, setiap inisiatif perdamaian harus didasarkan pada hukum internasional dan nilai-nilai yang tercantum dalam Piagam PBB agar dapat berjalan dengan efektif dan memberikan hasil yang berkelanjutan.

Di samping itu, pertimbangan terhadap strategi untuk “mengamankan atau mengambil” bahan nuklir Iran juga sedang dilakukan oleh pemerintahan Trump, sebagaimana dilaporkan oleh stasiun penyiaran AS, CBS.
Hal ini menambah kompleksitas situasi yang sudah ada, di mana berbagai upaya diplomasi dan tindakan militer berjalan beriringan dalam dinamika konflik yang melibatkan banyak pihak ini. (Red).
Oleh: Redaksi Kabaraktual.online












