Langkah ini selaras dengan transformasi pendidikan Polri yang telah dicanangkan sebelumnya, termasuk peresmian Laboratorium Sosial Sains di Akpol serta rencana penerapan kurikulum berbasis hak asasi manusia, kecerdasan buatan, dan data besar mulai tahun 2027.
Kabaraktual.online | Semarang – Pengawasan langsung telah dilakukan oleh Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M., terhadap pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan Spesialistik seleksi tingkat pusat Penerimaan Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun Anggaran 2026, pada Rabu, 8 Juli 2026.
Peninjauan yang berlangsung di Gedung Serbaguna Akademi Kepolisian, Lemdiklat Polri, Semarang, turut didampingi oleh Kalemdiklat Polri, Gubernur Akpol, Karokespol Pusdokkes Polri, serta Karodalpers SSDM Polri.
Langkah ini diambil guna memastikan seluruh tahapan berjalan secara profesional, transparan, akuntabel, serta memanfaatkan teknologi terkini guna menghasilkan rekrutmen yang akurat dan berbasis bukti ilmiah.
Peserta dan 12 Stasiun Pemeriksaan
Pemeriksaan kesehatan spesialistik ini diikuti oleh 409 calon taruna dan taruni dari total 410 peserta yang berhak mengikuti seleksi tingkat pusat, di mana satu peserta diketahui telah mengundurkan diri sebelum pelaksanaan.
Seluruh peserta diwajibkan menjalani pemeriksaan di 12 stasiun berbeda, meliputi mata, THT, gigi dan mulut, saraf, komposisi tubuh, bedah/fisik, penyakit dalam, jantung, obstetri dan ginekologi, radiologi dan paru, kulit, hingga pemeriksaan kepadatan tulang.
Penerapan Teknologi Kedokteran Terkini
Perhatian khusus diberikan Wakapolri terhadap penggunaan teknologi medis mutakhir yang diterapkan Pusdokkes Polri demi meningkatkan ketepatan hasil.
Salah satunya adalah metode Heart Rate Variability yang digunakan untuk menganalisis irama serta ketahanan jantung secara menyeluruh, bahkan setelah peserta melakukan aktivitas fisik guna mengukur kemampuan adaptasi terhadap beban tugas.
Selain itu, alat ukur kepadatan tulang berbasis digital juga dipakai untuk mendeteksi risiko cedera sejak dini, sementara kapasitas paru dievaluasi melalui pengukuran VO₂ Max guna memastikan daya tahan fisik yang prima.
Karokespol Pusdokkes Polri menjelaskan bahwa integrasi teknologi ini mengubah pola pemeriksaan dari sekadar klinis konvensional menjadi penilaian yang komprehensif dan objektif.
Ketatnya Persyaratan dan Langkah Preventif
Selain aspek fisik, pemeriksaan riwayat penyakit bawaan seperti gangguan saraf juga ditegaskan harus dilakukan secara cermat. Khusus bagi calon taruni, Wakapolri menginstruksikan agar pemeriksaan obstetri dan ginekologi diulang pada hari ke‑16 hingga ke‑20 pasca pengumuman kelulusan sebagai langkah jaminan kepatuhan standar.
Selanjutnya, pembaruan peralatan serta penguasaan ilmu kedokteran terbaru didorong secara berkelanjutan sebagai investasi dalam membangun sistem rekrutmen yang presisi.
Transformasi Menuju Polri Modern dan Berbasis Ilmiah

Seluruh upaya ini merupakan wujud nyata komitmen mewujudkan seleksi yang Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis, sekaligus memperkuat implementasi scientific policing sejak tahap awal.
Melalui standar kesehatan yang ketat dan terukur, Polri berharap dapat melahirkan perwira muda yang tidak hanya sehat dan tangguh, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman serta siap memberikan perlindungan terbaik bagi masyarakat. (H.R)
Editor: Redaksi












