Kabaraktual.online | Banda Aceh – Koordinator Nasional Presidium Pemuda Barat, Rifqi Maulana, S.H., mengajak seluruh elemen masyarakat Aceh, khususnya generasi muda, menjadikan momentum perdamaian sebagai energi baru untuk memperkuat persatuan dan mempercepat pembangunan daerah.
📌Baca Juga :
Menurutnya, perjalanan sejarah Aceh yang panjang menuntut tanggung jawab generasi kini untuk memastikan perdamaian tidak sekadar menjadi peristiwa yang diperingati, melainkan fondasi lahirnya kesejahteraan dan masa depan yang lebih baik.
“Jangan Wariskan Konflik, Wariskan Perdamaian”
“Pesan saya sederhana: jangan wariskan konflik kepada generasi berikutnya. Wariskan perdamaian, pendidikan, kesempatan dan masa depan. Kita sudah belajar dari sejarah, sekarang saatnya membuktikan bahwa perdamaian mampu melahirkan kemajuan,” tegas Rifqi pada Minggu, 16/08/2026 kepada Kabaraktual.online.
📌Baca Juga :
Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan di tengah masyarakat adalah bagian dari dinamika demokrasi dan tidak boleh menjadi alasan untuk kembali membangun sekat antar sesama anak bangsa.
Perbedaan harus diselesaikan melalui dialog, hukum, dan kebijakan bersama, bukan berkembang menjadi ketegangan di masyarakat.
Pemuda Harus Menjadi Pemersatu dan Bagian dari Solusi
📌Baca Juga :
Rifqi mengingatkan pemuda memiliki posisi strategis dalam menjaga kondusivitas Aceh. Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton dan komentator, tetapi harus naik kelas — masuk ke ruang pendidikan, ekonomi, hukum, teknologi, pemerintahan, dan dunia usaha untuk menawarkan gagasan serta terlibat langsung dalam penyelesaian persoalan.
“Kita harus menggeser energi perdebatan menjadi energi pembangunan. Kalau anak muda berkumpul, yang dibicarakan jangan hanya siapa yang berbeda dengan kita, tetapi bagaimana menciptakan lapangan kerja, bagaimana membangun ekonomi daerah, bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan,” ujarnya.
📌Baca Juga :
Perdamaian Harus Menghadirkan Kesejahteraan Nyata
Keberhasilan perdamaian, menurut Rifqi, tidak hanya ditandai dengan berakhirnya konflik. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
“Perdamaian harus hadir di meja makan rakyat. Harus hadir di sekolah, di kampus, di pasar, di tempat usaha dan di lapangan pekerjaan. Ketika masyarakat mendapatkan rasa aman, pendidikan yang baik dan kesempatan ekonomi, saat itulah perdamaian benar-benar memiliki arti.”
📌Baca Juga :
Pemerintah dan masyarakat juga diharapkan tidak saling berhadap-hadapan, melainkan menjadi mitra yang saling menguatkan. Pemerintah membutuhkan kritik yang sehat, sementara masyarakat membutuhkan pemerintah yang terbuka — keduanya dibangun di atas kepercayaan dan komunikasi.
Bangun Jembatan, Bukan Sekat
Rifqi menegaskan bahwa menghormati sejarah tidak berarti harus hidup dalam bayang-bayang konflik. Sejarah adalah pelajaran, bukan luka yang diwariskan.
“Aceh tidak membutuhkan lebih banyak sekat. Aceh membutuhkan lebih banyak jembatan. Jembatan antara pemerintah dan rakyat, antara generasi tua dan generasi muda, antara dunia pendidikan dan dunia usaha, serta antara Aceh dengan Indonesia dan dunia.”
📌Baca Juga :
🔗 HUT ke -53 Bank Aceh Syariah, Pinca Singkil Perkuat Amanah Lewat Aksi Sosial dan Pelayanan
“Tidak penting siapa yang paling keras berbicara tentang Aceh. Yang lebih penting adalah siapa yang paling banyak memberikan manfaat untuk Aceh. Mari kita buktikan kecintaan kepada daerah dengan kerja nyata,” tutupnya. (Munawan S)
📌 Keterkaitan Peristiwa












