banner 728x250

Bedah Film “Jihad Selfie”, Densus 88 AT Polri Perkuat Peran Sekolah dan Keluarga Cegah Radikalisme di Kalangan Pelajar

Densus 88 Anti Teror Polri bersama Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta menggelar kegiatan Bedah Film “Jihad Selfie” dan diskusi interaktif yang diikuti 200 Ketua OSIS, guru, komite sekolah, serta wali murid SMA/MA negeri dan swasta se-Provinsi DKI Jakarta.
banner 468x60

Kabaraktual.online | Jakarta – Densus 88 Anti Teror Polri bersama Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta menggelar kegiatan Bedah Film “Jihad Selfie” dan diskusi interaktif yang diikuti 200 Ketua OSIS, guru, komite sekolah, serta wali murid SMA/MA negeri dan swasta se-Provinsi DKI Jakarta.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran sekolah dan keluarga sebagai lingkungan yang aman bagi anak, sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap kekerasan, perundungan (bullying), propaganda di media sosial, paham radikal, dan Nihilistic Violent Extremism (NVE).

Example 300x600

📌Baca Juga :

🔗

🎯 Keluarga & Sekolah Garda Terdepan Pencegahan Radikalisme

Direktur Pencegahan Densus 88 AT Polri yang diwakili Kasubdit Kontra Ideologi Ditcegah Densus 88 AT Polri, Kombes Pol. Moh Dofir, menegaskan bahwa keluarga dan sekolah memegang peran sangat penting dalam menjaga masa depan generasi muda.

“Keluarga dan sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan rasa aman, perhatian, ruang dialog, serta lingkungan yang nyaman dan bebas dari bullying,” ujarnya.

Kakanwil Kemenag DKI Jakarta Adib menekankan pentingnya membangun pemahaman keagamaan yang moderat dan selaras dengan prinsip kebangsaan: “Mendorong terus terbangunnya pemahaman beragama yang moderat, sejalan dengan prinsip kebangsaan, menjunjung tinggi keragaman, perbedaan, dan menolak segala bentuk kekerasan.”

Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan DKI Jakarta Ali Mukodas menambahkan: “Pencegahan terorisme pada akhirnya bukan hanya tentang mencegah tindakan kekerasan, melainkan kita sedang membangun generasi yang tidak mudah dipecah oleh perbedaan dan tidak mudah dihasut oleh kebencian.”

📌Baca Juga :

🔗

📱 Ruang Digital Jadi Saluran Penyebaran Narasi Ekstrem

Dalam sesi diskusi, Kompol Agus Isnaini dari Densus 88 AT Polri menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru. Ruang digital dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi ekstrem yang menyasar kelompok remaja.

“Anak diperkenalkan pada konten atau figur bernuansa keluhan, ketidakadilan, atau kebencian — sering lewat game online, forum, atau media sosial,” paparnya.

Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen RI Ruspita Putri Utami menekankan pentingnya lingkungan sekolah yang inklusif dan kemampuan deteksi dini. “Jangan lagi ada eksklusivisme di sekolah. Harus inklusif, dan yang paling penting adalah kemampuan sekolah melakukan deteksi dini.”

Sementara itu, Spesialis Perlindungan Anak UNICEF Indonesia Ignatius Setiawan Cahyo Nugroho menyoroti perlunya pendekatan sistemik.

“Kita sering memberikan jawaban tidak sistemik, sedangkan masalahnya sistemik. Agar kita bisa berpikir sistemik maka kita perlu berpikir secara komprehensif.”

📌Baca Juga :

🔗

🤝 Bangun Komunikasi, Deteksi Dini, dan Lingkungan Aman

Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan DKI Jakarta Ali Mukodas menambahkan: “Pencegahan terorisme pada akhirnya bukan hanya tentang mencegah tindakan kekerasan, melainkan kita sedang membangun generasi yang tidak mudah dipecah oleh perbedaan dan tidak mudah dihasut oleh kebencian.”

Melalui bedah film dan diskusi interaktif, peserta diajak memahami bagaimana proses paparan ideologi kekerasan dapat terjadi serta pentingnya membangun komunikasi yang terbuka antara anak, orang tua, dan sekolah.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan kemampuan deteksi dini di lingkungan pendidikan, serta mendorong terciptanya sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari pengaruh ideologi ekstrem. (H.R)

Editor: Redaksi 

📌 Keterkaitan Peristiwa

Pencegahan paham radikal tidak bisa hanya diserahkan kepada aparat keamanan. Sekolah yang inklusif, keluarga yang terbuka berdialog, serta kewaspadaan terhadap konten berbahaya di ruang digital — semuanya menjadi benteng terkuat agar generasi muda Indonesia tumbuh dengan pemahaman yang moderat, cinta damai, dan menjunjung tinggi persatuan.

banner 120x600