banner 728x250

Diskusi Seabad Sumpah Pemuda di Medan: Pemuda Diingatkan Perkuat Daya Kritis di Tengah Polarisasi Media Sosial

Kalangan akademisi dan aktivis kepemudaan mengingatkan pentingnya menjaga persatuan serta memperkuat daya kritis generasi muda di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi yang dipicu media sosial. 
banner 468x60

📰 Kabaraktual.online | MEDAN — Kalangan akademisi dan aktivis kepemudaan mengingatkan pentingnya menjaga persatuan serta memperkuat daya kritis generasi muda di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi yang dipicu media sosial.

Pemuda juga dituntut mampu melahirkan gagasan dan tindakan nyata dalam menyongsong seabad Sumpah Pemuda menuju Indonesia Emas 2045, pada Kamis, 29/10/2026.

Example 300x600

📌 Baca Juga : Dugaan Penyelewengan BBM Subsidi Armada MBG Madina Dilaporkan ke BGN Pusat, Masyarakat Desak Audit Forensik

Pernyataan tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “Menyongsong Seabad Sumpah Pemuda dan Tantangan Ruang Gema: Polarisasi Pemuda dan Merawat Persatuan di Era Algoritma” yang berlangsung di Medan, dipandu Rafael Sinaga, SH. Hadir sebagai pembicara Akademisi USU A. Fattah Lubis, S.Sos, MIP, Komda PMKRI Sumut-NAD Sirdo Sagala, SH, Ketua Agitasi dan Diplomasi Politik Viva Voce Kristoporus Simamora, S.Sos, serta Ketua Presidium PMKRI Cabang Medan Nicola Simarmata, S.Sos.

📌 Baca Juga : Bareskrim Polri Tetapkan 245 Tersangka dan 20 Korporasi dalam Kasus Karhutla, 23 Perusahaan Direkom Dicabut Izinnya

Kembali ke Semangat 1928

Akademisi Universitas Sumatera Utara, A. Fattah Lubis, menjelaskan Sumpah Pemuda 1928 lahir dari kesadaran generasi muda yang mampu mengesampingkan perbedaan demi satu tujuan kebangsaan. Tantangan saat ini berbeda: ketergantungan pada gawai dan media sosial harus diimbangi dengan kebiasaan membaca, kepekaan sosial, serta kemampuan mewujudkan gagasan menjadi tindakan nyata.

“Jangan sampai kita hanya menyalahkan instansi dan pemerintah tanpa merefleksikan diri sendiri. Pemuda harus mampu menindaklanjuti gagasan yang dimiliki,” ujar Fattah.

Tiga Kekuatan Pemuda Menuju Indonesia Emas

Senada, Sirdo Sagala menegaskan persatuan adalah fondasi utama Sumpah Pemuda yang harus terus dijaga, terutama menghadapi bonus demografi 2045. Ia menekankan tiga hal yang wajib dimiliki pemuda: kesadaran diri, keberanian, dan kemampuan melahirkan karya nyata.

“Persatuan harus dibangun dari perasaan, keresahan, dan penderitaan yang sama. Pemuda juga harus menghadirkan tindakan konkret untuk memperjuangkan keadilan,” katanya.

Sirdo juga mengajak pemuda aktif di tengah masyarakat dan menyukseskan Rakernas PMKRI Sanctus Thomas Aquinas yang akan digelar di Medan.

📌 Baca Juga : PETI Marak di Sungai Kuantan, DAS Rusak — Warga Desak Polda Riau Usut Pemodal di Balik Layar

Waspada Algokrasi dan Informasi Sepihak

Kristoporus Simamora menyoroti pengaruh algoritma yang semakin berperan membentuk opini publik — fenomena yang disebut algokrasi. Penguasaan data dan arus informasi tak jarang dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Karena itu, ruang diskusi yang luas sangat dibutuhkan agar pemuda tidak menerima informasi secara mentah.

“Jadikan media sosial sebagai teman yang baik agar kita tetap kritis,” ajaknya.

📌 Baca Juga : Belum Tersentuh Hukum, Penadah Emas Hasil PETI di Benai Beroperasi Terang-Terangan

Sumpah Pemuda Bukan Sekadar Ritual Tahunan

Nicola Simarmata menambahkan paparan informasi di media sosial berpotensi memperlebar jarak antara warga. Peringatan Sumpah Pemuda harus menjadi momentum refleksi, bukan sekadar agenda tahunan.

Nilai Bonum Communae — kebaikan bersama — harus benar-benar diwujudkan. Organisasi kepemudaan juga diminta membuka ruang partisipasi yang setara bagi seluruh anggotanya.

Nicola Simarmata menambahkan paparan informasi di media sosial berpotensi memperlebar jarak antara warga.

Diskusi berlangsung interaktif, dengan peserta menanyakan langkah konkret membangun persatuan dan memperjuangkan keadilan.

Para narasumber sepakat: persatuan butuh lebih dari sekadar seruan — butuh literasi digital yang kuat, solidaritas, keberanian berpendapat, dan karya nyata dari generasi muda. (WS)

Editor: Redaksi 

banner 120x600