banner 728x250

Provokasi Anti-Muslim Meningkat di AS: Aktivis Sayap Kanan Beraksi di Michigan, Terkait Ketatnya Pilwan Senat

Jake Lang, seorang tokoh sayap kanan ekstrem, terlihat memakai rompi antipeluru sambil meneriakkan kata-kata kasar dan anti-Muslim menggunakan pengeras suara di luar lokasi kampanye mantan Presiden AS Barack Obama di Detroit
banner 468x60

📰 Kabaraktual.online | DEARBORN, MICHIGAN — Ketegangan menjelang pemilihan Senat Amerika Serikat di Michigan semakin memuncak dengan maraknya aksi provokasi bernada kebencian terhadap komunitas Muslim dan Arab.

Jake Lang, seorang tokoh sayap kanan ekstrem, terlihat memakai rompi anti peluru sambil meneriakkan kata-kata kasar dan anti-Muslim menggunakan pengeras suara di luar lokasi kampanye mantan Presiden AS Barack Obama di Detroit, Kamis (29/10/2026).

Example 300x600

📌 Baca Juga : Pentagon Pecat Pemimpin Redaksi & Jurnalis Stars and Stripes — Diduga Balas Dendam atas Kemerdekaan Redaksional

Rekan-rekannya membawa atribut bernuansa Perang Salib, termasuk perisai timah berlambang salib hitam, sekaligus memegang poster pendukung Mike Rogers, calon Senat dari Partai Republik yang bersaing ketat dengan kandidat Partai Demokrat Abdul El-Sayed di Michigan.

Tanpa slogan-slogan bernada kebencian yang mereka sampaikan, warga yang hadir bisa saja mengira kelompok tersebut hanya mengenakan kostum Halloween.

“Keluar kalian kaum Muslimin! Perang Salib akan datang. Pulanglah ke negerimu,” teriak Lang secara terbuka.

📌 Baca Juga : Konflik AS-Israel-Iran Guncang Dunia, Dampak Meluas Terasa

Kebencian Mulai Menjadi Arus Utama

Meskipun Lang tampak seperti aktivis pinggiran, para pengamat dan aktivis Muslim Amerika memperingatkan bahwa narasi kebencian yang ia sebarkan semakin meluas dan bahkan mendapat dukungan dari tingkat tertinggi pemerintahan AS.

Serangan dan tuduhan tak berdasar terhadap Abdul El-Sayed terus disuarakan, termasuk oleh Presiden Donald Trump dan para pejabat kabinetnya.

Suehaila Amen, tokoh pembela hak komunitas Arab dan Muslim di wilayah Detroit, menilai situasi saat ini jauh lebih buruk dibandingkan masa pasca-serangan 11 September 2001.

📌 Baca Juga : Konflik Regional Membara, Korban Jiwa Terus Bertambah

“Jika dibandingkan dengan sekarang, masa pasca-9/11 terasa seperti jalan-jalan santai. Apa yang terjadi sekarang sungguh memprihatinkan,” ungkap Amen kepada Al Jazeera.

Penasihat Agama Kampanye Rogers Terkait Aksi Anti-Muslim

Salah satu sekutu Lang, Pendeta Lorenzo Sewell, tercatat sebagai penasihat urusan agama resmi dalam tim kampanye Mike Rogers. Sewell juga diketahui membantu Lang mengorganisir pawai anti-Muslim di kawasan Dearborn — kota dengan populasi warga Arab dan Muslim terbesar di AS — pada Agustus lalu.

📌 Baca Juga : Ketegangan Kawasan Timur Tengah Dilakukan Serangan-serangan Militer Berbagai Pihak

Walikota Dearborn, Abdullah Hammoud, mengonfirmasi ancaman terhadap kotanya meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.

“Masyarakat luas belum menyadari betapa banyak ancaman yang kami terima setiap hari — melalui media sosial, telepon darurat, maupun telepon ke pusat layanan kota — yang ditujukan langsung kepada warga kami. Hal ini sangat mengkhawatirkan,” ujar Hammoud.

Sementara itu, tim kampanye Mike Rogers belum menanggapi permintaan klarifikasi yang di kutip dari Al Jazeera terkait hubungan dengan Sewell. Rogers sendiri membela serangan-serangannya terhadap latar belakang El-Sayed dengan alasan keamanan nasional.

“Ini bukan soal cara beribadah, melainkan pola pikir,” ujar Rogers setelah debat calon awal bulan ini.

📌 Baca Juga : Upaya Kudeta di Benin Dibatalkan, Pemerintah Tetap Menguasai Situasi

Komunitas Tidak Gentar, Justru Bersatu

Alih-alih mundur, para pemimpin lokal menyatakan komunitasnya semakin bersatu dan bergerak aktif mendukung kampanye Abdul El-Sayed sebagai respons atas ancaman dan serangan yang terus dilakukan Presiden Trump.

“Trump adalah seorang fasis. Respons terbaik yang bisa kami berikan adalah mengirim Abdul ke Senat AS — seseorang berpendidikan doktor, putra bangsa ini, putra negara bagian ini. Itu jawaban terbaik kami terhadap fasisme,” tegas Walikota Hammoud.

Presiden Trump berulang kali mengejek nama El-Sayed, salah menyebutnya sebagai “Muhammad”, dan melabeli kandidat tersebut sebagai “pendukung jihad”. Amen menegaskan komunitasnya tidak akan terpengaruh:

“Kami adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa ini, suka atau tidak suka. Ketika Presiden sendiri yang menormalisasi kebencian, itu bukan sekadar ujaran kebencian warga biasa — itu datang langsung dari Gedung Putih. Tapi kami tidak akan kalah, kami terus berjalan dan berorganisasi,” pungkas Amen. (Wan)

Editor: Redaksi

banner 120x600