Kabaraktual.online | Jakarta – Sebanyak 282 Perwira Remaja Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan ke‑58 Batalyon Ksatrya Hawin Sarwahita Tahun 2026 telah mengikuti Tradisi Penyambutan Perwira Remaja di Rupatama Markas Besar Polri pada Rabu, 22 Juli 2026.
Prosesi yang dipimpin oleh Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M., ini menjadi penanda dimulainya babak baru pembentukan karakter kepemimpinan para lulusan Akademi Kepolisian.
📌Baca Juga: 🔗 Polri Hadirkan Sekolah Unggulan Dunia, 297 Siswa Mulai Menempati
Prosesi dan Makna Simbolis
Kelompok perwira muda tersebut terdiri atas 249 Polisi Laki‑laki dan 33 Polisi Wanita. Rangkaian tradisi meliputi penghormatan kepada Panji‑panji Polri, pembacaan ikrar, penciuman panji, pengalungan bunga, hingga penyerahan pedang perwira.
Prosesi tersebut bukan sekadar simbol kehormatan, melainkan peneguhan komitmen moral untuk mengemban nilai‑nilai Tribrata dan Catur Prasetya dalam setiap langkah pengabdian. Tradisi ini menjadi gerbang awal sebelum mereka memasuki tahapan pendidikan sebagai Siswa Sekolah Perwira untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan dan kesiapan menghadapi dinamika tugas.
Amanat Wakapolri: Integritas dan Kepercayaan Publik
Dalam amanatnya, Wakapolri menegaskan bahwa pangkat perwira bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal proses pembelajaran yang lebih luas.
“Hari ini adalah hari kebanggaan, tetapi esok adalah hari pembuktian. Jadilah perwira yang cerdas, berintegritas, humanis, dan adaptif dengan Tribrata serta Catur Prasetya sebagai kompas pengabdian,” tegasnya.
Lebih jauh, Wakapolri menggarisbawahi bahwa kepercayaan masyarakat tidak dibangun oleh pangkat atau kewenangan, melainkan melalui integritas, keteladanan, profesionalisme, dan pelayanan yang dirasakan langsung.
Ia memperingatkan bahwa satu tindakan menyimpang dapat merusak kepercayaan publik yang telah dibangun bersama, sehingga setiap perwira wajib menjaga kehormatan institusi melalui sikap jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.
Tantangan Zaman dan Kesiapan Adaptasi
Wakapolri juga menyoroti tuntutan era perubahan di mana kejahatan baru—seperti kejahatan siber, penyebaran hoaks, radikalisme digital, hingga kejahatan transnasional—semakin berkembang.
Oleh karena itu, setiap perwira didorong untuk terus belajar, menguasai teknologi, memanfaatkan data, serta mengedepankan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan.
📌Baca Juga: 🔗 Polri Kukuhkan LP-KTB, Bangun Tata Kelola Sekolah Unggulan
Selain itu, kemampuan beradaptasi dengan keragaman sosial budaya setiap wilayah penugasan menjadi kualitas kepemimpinan yang harus terus ditempa.

Dengan berakhirnya tradisi ini, perjalanan para perwira muda sebagai calon pemimpin Polri secara resmi dimulai. Diharapkan dari fase pendidikan ini akan lahir perwira yang tidak hanya cakap menegakkan hukum, tetapi juga mampu menjaga kepercayaan masyarakat sebagai fondasi keberhasilan institusi menuju Indonesia Emas 2045. (H.R)
Editor : Redaksi
📌 Keterkaitan Peristiwa












