Kabaraktual.online | Iran – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan pengakhiran keadaan yang digambarkannya sebagai “bukan perang bukan damai” dengan Amerika Serikat.
Ia menegaskan saat ini Iran berada dalam posisi kuat dan momen yang tepat untuk mencapai kesepakatan yang mengakhiri konflik yang berkepanjangan.
Pernyataan ini muncul seiring berjalannya pembicaraan antara Iran dan Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz—jalur perairan vital yang menyalurkan sekitar seperlima pengiriman minyak dunia pada masa damai.
📌Baca Juga :
🔗 Brimob Polda Metro Jaya Bergerak Cepat Bubarkan Tawuran di Ciputat, Dua Orang dan Tiga Celurit Berhasil Diamankan
Sejak serangan gabungan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari lalu, Selat Hormuz secara nyata mengalami blokade dari pihak Iran, dan konflik tersebut telah menelan korban jiwa lebih dari 3.400 orang.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan diskusi bersama Oman terkait pengelolaan dan pelayaran di selat tersebut sudah mendekati tahap akhir, namun pembukaan kembali tetap bergantung pada pemenuhan syarat serta ganti rugi atas pelanggaran Nota Kesepahaman yang pernah disepakati bulan Juni lalu.
📌Baca Juga :
🔗 Demi Kepastian Hukum, Keluarga Sutrimo Serahkan Penelusuran Penyebab Kematian ke Polresta Banyumas
Ia menegaskan bahwa Iran tidak sedang bernegosiasi langsung dengan AS, melainkan hanya bertukar pesan melalui perantara.
“Kita harus mencari jalan keluar dari keadaan yang menggantung ini. Pembicaraan bersama Oman sedang diupayakan demi terwujudnya jalur pelayaran sementara, dan kami sudah sangat dekat dengan hasilnya,” ujar Araghchi.
Baru-baru ini kedua pihak bahkan telah menyepakati koordinat jalur pelayaran baru yang akan melintasi selat tersebut.
📌Baca Juga :
🔗 Gunung Etna Meletus Keluarkan Abu, Penerbangan Tiba di Bandara Catania Sisilia Ditangguhkan
Kekuatan Bersatu, Momen Tepat Berdamai
Dalam pernyataannya kepada media, Presiden Pezeshkian menekankan persatuan dan kekuatan bangsa Iran menjadi modal utama.
“Saat ini negara bersatu dan kokoh. Iran tampil sebagai pihak yang tangguh dan unggul dalam perang ini. Sudah seharusnya ada jalur komunikasi khusus untuk menangani pelanggaran gencatan senjata sejak awal, bukan justru memperpanjang pertempuran,” ucapnya dikutip dari ALJAZEERA pada Minggu, 09/08/2026.
📌Baca Juga :
🔗 Pasukan Israel Masuk Desa Zawtar al-Gharbiyah & Bangun Penghalang, Tiga Prajurit Lebanon Luka Saat Jinakkan Bahan Peledak
Namun, pernyataan ketat juga datang dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Juru bicaranya Hossein Mohebbi menyatakan:
“Selat Hormuz pasti akan dibuka kembali hanya jika Amerika Serikat bersedia menerima seluruh syarat yang kami tetapkan.”
Enam Syarat Keras Iran, Perluas Cakupan Tuntutan
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran merilis enam syarat mutlak yang harus dipenuhi Washington sebelum pembukaan selat dapat terwujud, bahkan memperluas tuntutan melampaui kesepakatan bulan Juni lalu:
✅ Menghentikan segala ancaman dan penghinaan terhadap nilai nasional serta agama Iran
✅ Menghentikan serangan secara permanen terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, hingga Irak
✅ Mencabut blokade angkatan laut AS dan menarik pasukan militer AS dari wilayah sekitar Iran
✅ Membayar ganti rugi penuh atas kerusakan akibat dua perang yang dipaksakan
✅ Mencabut sanksi internasional yang membebani rakyat Iran
✅ Melepaskan aset Iran yang dibekukan tanpa syarat apapun
📌Baca Juga :
🔗 Direktur Olahraga Newcastle: Bruno Guimaraes Pergi Bukan Karena Kami Ingin Jual, Tapi Ia Meminta Pindah
Titik Temu yang Masih Sulit Dijangkau
Perbedaan pandangan mengenai kendali jalur pelayaran menjadi hambatan terbesar. AS menolak keras jika Iran diberikan kekuasaan tunggal mengatur seluruh lalu lintas kapal, sekaligus menentang pungutan biaya yang diusulkan.
Sementara itu, bagi Iran, kendali atas Selat Hormuz adalah senjata tawar paling kuat untuk mendapatkan kelegaan ekonomi dan pencabutan sanksi.
📌Baca Juga :
🔗 Musibah Kebakaran Landa SMP Negeri 5 Teluk Kuantan, Gedung Perpustakaan Ludes Terbakar
Ketegangan masih terasa nyata; baru saja sebuah kapal terkena serangan proyektil di perairan Oman sehingga terbakar meski api berhasil dipadamkan tanpa korban jiwa. Iran menegaskan tidak akan melepaskan senjata tawar ini sebelum keadilan dan kesejahteraan rakyatnya terjamin secara nyata.
Editor: Redaksi
📌 Keterkaitan Peristiwa












