Kabaraktual.online | Jakarta Pusat – Sebuah diskusi yang melibatkan sejumlah aktivis dan elemen pergerakan digelar di Coffee Mas Miskun, Paseban, Jakarta Pusat, pada 24 Juli 2026.
Meski awalnya dirancang untuk membahas persoalan buruh dan RUU Ketenagakerjaan yang diharapkan disahkan akhir tahun 2026, forum tersebut secara mendadak bergeser menyoroti urgensi gerakan kebangkitan kesadaran serta pemahaman spiritual sebagai fondasi memperbaiki kerusakan etika, moral, dan akhlak yang melanda penyelenggaraan negara.
📌Baca Juga: 🔗 Satpol PPPKP Kuansing Periksa Empat Warung Remang-Remang
Refleksi Kondisi Bangsa dan Perlawanan
Sebagai pembicara utama, seniman dan budayawan Bambang Isti Nugroho membedah pola perlawanan rakyat pada era 1980-an yang dinilai sangat berbeda dengan situasi masa kini.
Menurutnya, apa yang selama ini diutarakan kalangan republiken kerap hanya berhenti pada keluhan belaka karena telah diketahui publik tanpa diikuti langkah nyata.
📌Baca Juga: 🔗 Warga Pamah Adukan Kejanggalan HGU PT Cinta Raja
Ia menegaskan bahwa bangsa kini berada dalam kondisi rusak parah, di mana aparat penegak hukum justru kerap melanggar hukum, sebagaimana tercermin dalam dinamika “Jaksa menangkap Polisi, dan Polisi menangkap Jaksa.”
Filosofi Perjuangan Tanpa Menyerah
Adi Munardi mengangkat kisah Raja Namrud dan burung Bul-bul yang berupaya memadamkan api dengan setetes air dari paruhnya sebagai cermin semangat yang tak boleh padam.
Meski menyadari ketidakmampuan secara kuantitas, kesadaran untuk terus bergerak tanpa putus asa menjadi inti perjuangan.
📌Baca Juga: 🔗 Presiden Prabowo Efisiensi Anggaran Hapus Kemiskinan, Anggaran Apa Aja Ya,!
Ia juga memetakan tiga lapisan perilaku manusia: yang bergerak atas logika kepala, yang didorong hawa nafsu dada, dan sedikit yang bertindak atas kemuliaan hati sebagai khalifatullah.
Oleh karena itu, Adi menekankan perlunya peningkatan frekuensi penyadaran melalui media sosial guna membangun kepedulian dan perlawanan rakyat. Gagasannya dalam “Manifesto Martabat Buruh Merebut Kembali Hari Esok Yang Dijual Murah” dinilai sangat relevan dengan urgensi spiritual tersebut.
Pandangan Politik dan Pembenahan Tata Kelola
Sementara itu, Anwar Esfa, yang dikenal sebagai loyalis Prabowo Subianto, menilai reshuffle kabinet tetap menjadi langkah penting yang perlu didukung demi pembenahan tata kelola negara.
📌Baca Juga: 🔗 Presiden Prabowo: Akademisi dan Peneliti Kunci Inovasi Jawab Tantangan Nasional
Meski tidak percaya pada demokrasi dalam praktiknya, ia tetap menegaskan kedaulatan rakyat sebagai pijakan. Secara umum, para peserta sepakat bahwa asupan spiritual yang mengikat etika, moral, dan akhlak mulia menjadi pijakan mutlak agar bangsa tidak terus meluncur menuju kehancuran.
Editor: Redaksi
📌 Keterkaitan Peristiwa












